Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare – Prof. Dr. Hamdanah, M.Si., mendorong pesantren mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi ke dalam kurikulum, proses pembelajaran, dan kehidupan sehari-hari santri. Gagasan tersebut disampaikan dalam Seminar dan Workshop Penguatan Kapasitas Ekoteologi Pesantren di Pondok Pesantren DDI Assalman, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sabtu, (01/08/2026).
Dalam kegiatan bertema “Transformasi Kurikulum Berbasis Ekoteologi dalam Membentuk Karakter Santri Peduli Lingkungan” itu, Prof. Hamdanah membawakan materi mengenai pendidikan Islam dan pembentukan karakter peduli lingkungan melalui internalisasi nilai, strategi ekologis, pembiasaan, keteladanan, dan penilaian.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam. Tanggung jawab manusia bukan hanya membangun hubungan yang baik dengan Allah dan sesama, tetapi juga menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari amanah kekhalifahan.
“Kesadaran menjaga lingkungan harus tumbuh dari nilai keimanan, kemudian diwujudkan melalui amal saleh ekologis. Santri tidak cukup hanya mengetahui pentingnya menjaga alam, tetapi perlu membuktikannya melalui kebiasaan dan tindakan nyata,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Nilai-nilai ekologis perlu dimasukkan ke dalam materi pembelajaran, diperkuat melalui keteladanan guru dan pengasuh, kemudian diterapkan dalam kebiasaan santri di lingkungan pesantren.
Dari perspektif etika Islam dan maqāṣid al-syarī‘ah, Prof. Hamdanah menekankan pentingnya hifẓ al-bī’ah atau perlindungan terhadap lingkungan. Menjaga alam berkaitan erat dengan perlindungan kehidupan manusia, keberlanjutan sumber daya, serta tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
Sebagai langkah konkret, ia memperkenalkan konsep Kurikulum Hijau Terpadu atau Green Islamic Education. Konsep ini mengintegrasikan materi ekologi ke dalam pembelajaran fikih lingkungan, akidah, akhlak, serta mata pelajaran umum sehingga pemahaman agama dan kesadaran ekologis santri berkembang secara bersamaan.
“Pesantren memiliki kekuatan karena pendidikan, keteladanan, dan kehidupan santri berlangsung dalam satu lingkungan. Kondisi ini menjadi peluang besar untuk membangun budaya peduli lingkungan secara konsisten,” jelasnya.
Penerapan kurikulum hijau, lanjut Prof. Hamdanah, dapat dimulai melalui tindakan sederhana, seperti menyediakan tempat sampah terpilah, melaksanakan gerakan Jumat Bersih, menjaga kebersihan asrama dan masjid, menghemat air wudu, serta mematikan lampu ketika tidak digunakan.
Pembiasaan tersebut perlu didukung oleh keterlibatan seluruh warga pesantren. Pengasuh dan guru juga harus menjadi teladan agar kepedulian lingkungan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berkembang menjadi budaya bersama.
Prof. Hamdanah berharap penguatan ekoteologi dapat mendorong pesantren melahirkan santri yang memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus peka terhadap persoalan lingkungan. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keislaman, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun kehidupan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (hfs)